Puskesmas Bumiayu Meraih TOP 10 pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Prov. Jawa Tengah

BREBES – Anggota Komisi IV DPRD Brebes, Muhammad Rizki Ubaidillah mengapresiasi keberhasilan Puskesmas Bumiayu di bidang kesehatan yang masuk dalam sepuluh besar Top Inovasi Pelayanan Publik Tingkat Jawa Tengah

“Kami apresiasi apa yang sudah diraih oleh teman-teman nakes di Puskesmas Bumiayu. Harapan kami mudah-mudahan bisa masuk ke tahap selanjutnya sampai di tingkat nasional,” kata Muhammad Rizki Ubaidillah, Senin (29/11/2021).

Ia berpesan kepada para tenaga kesehatan agar inovasi dalam hal pelayanan terus ditingkatkan. Sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin cepat, mudah, ramah, efektif dan efisien.

“Pesan kita jangan berbangga diri dengan masuk nominasi, segera terapkan agar masyarakat dapat menikmati pelayanan tersebut. Dan pesan kepada Kapus Bumiayu dr Ali Budiarto di dinas kesehatan agar tetep membuat inovasi-inovasi agar pelayanan dasar kesehatan di Kabupaten Brebes bisa lebih baik lagi ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bumiayu dr Ali Budiarto mengatakan, inovasi PeDeKaTe ABK (Peduli, Deteksi dan Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus) ini bertujuan untuk menggerakkan kepedulian seluruh elemen masyarakat, mempercepat penemuan kasus ABK dan mempermudah akses layanan intervensi.

“Untuk target program ini kelompok rentan berkebutuhan khusus, utamanya usia balita dan anak kurang mampu,” kara dr Ali Budiarto.

Ia menambahkan, dalam praktek di lapangan jalannya program PeDeKaTe ABK juga bekerjasama dengan OPD terkait dan elemen masyarakat. Di antaranya, Dinas Sosial, DP3KB, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, KPAI, Donatur, Organisasi Profesi dan Forkompimcam.

“Untuk Peduli, kita menggerakkan sektor terkait. Deteksi dini kita lakukan pemantauan langsung kepada perkembangan balita. Intervensi dini kita lakukan Fisioterapi melakukan assessment, konsultasi lanjutan,” jelasnya.

Bahkan, kata dia, selama program berjalan telah melakukan pendampingan kepada seratusan anak disabilitas. Di antaranya, disabilitas fisik 60 anak, disabilitas mental 14 anak, disabilitas intelektual 38 anak dan disabilitas sensorik 5 anak.

“Program inovasi yang kita jalankan ini untuk mengatasi keterlambatan deteksi kepada balita dan anak disabilitas sejak dini. Dan juga tidak ada layanan ABK di Faskes Tingkat I serta keterbatasan akses pelayanan dan ketidakmampuan orang tua. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini bisa membantu sesama dan bermanfaat,” pungkasnya. (*)

Diterbitkan : Panturapost.com pada 29 November 2021

Leave a Reply

Name *
Email *
Website